Nasehat Sufi

Hakekat Membersamakan Diri dengan Guru Sufi…

Oleh: Abdul Rahman Hakim al-Khoolish (*

Seluruh Ordo Sufi [thoriqoh] sepakat dengan doktrin: untuk meraih kedudukan spiritual slalu ingat, diingat, dekat, dan bersama Alloh itu memerlukan perantara [wasilah]. Doktrin ajaran ini antara lain merujuk pada Firman-Nya dalam Surat Al Maidah ayat 35 dan At Taubah ayat 119:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan carilah wasilah/jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihad-lah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh Swt dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”

Keterangan di atas diperkuat dengan Hadist Rasulullah SAW:

كُنْ مَعَ الله فَ اِلَى مْتَكُنْ مَعَ الله فَكُنْ مَعَ مَنْ مَعَ الله فَ اِنَّهُ يُوْاصِلُكَ اِلَّاَ الله

“Jadilah (ruhani) kalian bersama Alloh, jika (ruhani) kalian belum bisa bersama Alloh, maka jadilah kalian bersama dengan orang yang (ruhaninya) telah bersama Alloh. Sesungguhnya mereka akan menghantarkan (ruhani) kamu kepada Alloh.” (HR. Abu Daud)

Kalau ingin slalu dibersamai Guru Sufi Agung Tuan Syeikh, bersamakan slalu diri dengannya [ma’iyyah] Sebab Tuan Syeikh hanya bersama murid yang slalu membersamakan diri dengannya.

Hakekat-nya hakekat dekat dan membersamakan diri dengan Guru Sufi itu harus dengan kedua infrastruktur: jasmani dan ruhani-nya, atau dhohir batinnya, atau jasad dan ruhnya. Inilah yang disebut dalam dunia sufi sebagai riyadhoh shohbah.

Shohbah itu, sabda Tuan Guru Sufi Syeikh Muhammad Abdul Gaos ada dua. Pertama, shohbah shugro, yaitu, ketika murid melakukan ijtima’, berkumpul dengan Syeikh-nya, lalu dengan tekun mengikuti kegiatan istima’, mendengar setiap nasihat/petuah dari Syeikhnya.

Kedua, shohbah kubro, yaitu, meski di kala jauh, ruh murid slalu mengingat [robithoh] kepada Syeikhnya. Mengingat Syeikhnya berarti diingatnya dan dibersamainya. Tiada cara mengingat terbaik Tuan Syeikh yakni dengan mengamalkan amalannya, menjalani kebiasaan-kebiasaannya.

Shuhbah kubro itu, ialah ketika murid slalu satu frequensi dengan Gurunya. Inilah kedudukan rohani murid yang slalu robithoh kepada Gurunya.

Tentang praktek riyadhoh membersamakan diri dengan sang Mentor Sufi, Guru Agung kesucian jiwa, kita bisa melihat Sahabat Utama, salah seorang Wali Alloh paling utama umat Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Abu Bakar As Shidiq, seperti tertera dalam keterangan masyhur ini:

أَنَّ اَبَا بَكْرِ الصِّدِّيْق رَضِىَ الله عَنْهُ شكا لِلنَّبِىِّ عَدَمَ انْفِكاَكِهِ. عَنْهُ حَتىَّ فِى الْخَلاَءِ

Bahwa Abu Bakar as Shiddik mengadukan halnya kepada Rasulullah Saw bahwa ia tidak pernah lekang (terpisah ruhaninya) dari Nabi Saw sampai ke dalam WC.

Ikut Guru yang ikut Gurunya, yang ikut Gurunya, yang ikut Gurunya, sampai ikut Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah tanda cinta kepada Alloh. Dan Guru-guru Sufi sanadnya pasti dan pastikan sampai Rosululloh SAW.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah : jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kamu. Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran : 31)

Dengan demikian, ikut saja, terbawa dan bersama.

*) Pendiri Pesantren Peradaban Dunia JAGAT ‘ARSY/Wazirul Khoosh Syeikh Muhammad Abdul Gaos SM

Comment here