Petunjuk Sufi

Hakekat Rejeki dalam Dimensi Sufi

Oleh: Abah Jagat (*

Setiap makhluq hidup di dunia ini sudah ada rejekinya masing-masing. Apalagi manusia, rejekinya sudah diatur dan ditetapkan sejak di Alam Asal. Oleh karena sudah ada, maka rejeki tak perlu dicari tapi dijemput. Jemputlah rejeki ke tempat yang benar. Kalau belum ketemu pasti salah lokasi jemputan. Bersabarlah menjemput rejeki.

Manusia hanya bisa merencanakan sumber-sumber rejeki tapi jatuhnya rejeki itu hak prerogatif ALLOH. Tak seorang pun manusia campur tangan mengintervensi pengaturan rejeki.

Setiap manusia porsi rejekinya berbeda-beda. Ada yang dianugrahi keberlimpahan, ada yang pas-pasan, bahkan ada yang serba kekurangan. Ketiga jenis porsi rezeki itu merupakan titipan sekaligus ujian bagi manusia. Sesungguhnya pula, kenyataanya, keberlimpahan, pas-pasan, dan kekurangan itu soal perasaan. Dan perasaan itu terkait erat dengan keberkahan.

Rejeki berkah itu terlihat fisiknya pas-pasan bahkan kekurangan tapi manusia penerimanya merasa cukup dan bersyukur. Itulah sumber kebahagiaan dunia hingga kelak di akhirat. Sebaliknya, rejeki yang tidak berkah, tampak fisiknya meruah tapi manusia penerimanya merasa kurang terus, tak pernah merasa puas dan cukup dengan yang ada. Itulah siksaan. Oleh karenanya panjatkan slalu rejeki yang berkah: anugerah perasaan berkecukupan dan bahkan perasaan keberlimpahan.

Setiap rejeki akan mencari Tuannya sendiri, demikian ucap Guru Agung. Dari cara datangnya rejeki, setiap manusia berbeda-beda. Ada yang rejekinya harus dijemput dengan susah payah, lelah, tapi ada yang rejekinya datang sendiri, rejeki dengan mudah dan senang menghampirinya. Tidak boleh iri dengan ketetapan ini. Iri itu penyakit hati berbahaya yang susah sembuhnya.

Iri dengan mengeluhkan pengaturan rejeki sama artinya mengeluhkan, memprotes ketetapan-Nya. Selow saja, dan, slalu katakan kalimat-kalimat positif seperti, “Kalau dah rejeki takkan kemana”; “Tenang, rejeki mah sudah ada yang atur”; “Kalau ga dapet, itu namanya belum rejeki”. Sikap positif terhadap rejeki itu tanda jiwa yang syukur. Jiwa bersyukur hidupnya bahagia, di dunia maupun kelak.

Sebaliknya, sikap negatif merupakan cermin manusia kufur. Ya, kufur nikmat. Siksa neraka bagi yang suka lupa terhadap fakta: telah banyak karunia nikmat yang telah dianugerahkan-Nya. Naudzubillahi min dzaalik.

Pertambahan-penggandaan rejeki itu ada rumusnya. Di antara-nya ada tiga. Rumus pertama: syukuri rejeki yang ada, caranya, dengan sikap slalu menerima yang ada. Kenapa demikian? Nasihat dari Guru Sufi Agung, menerima rejeki yang ada adalah kunci rahasia untuk datangnya rejeki yang belum ada atau yang tidak ada.

Bersyukurlah dengan yang ada, tapi, ketika bersyukur, bersihkan hati dari harapan supaya rejeki bertambah. Sekali terbesit, tambahan rejeki itu ditangguhkan pemberiannya. Bersihkan hati saat bersyukur, pasti ditambah-limpah-ruahkan rejekinya. Tuntunannya, tasyakuri rejeki dengan cara memperbanyak dan mendawamkan Dzikrulloh. Dzikir itu syukur, tidak Dzikir itu kufur. Itu firman-Nya.

Rumus pertambahan-penggandaan rejeki yang kedua ialah dengan membiasakan diri ber-shodaqoh. Dengan ungkapan lain, ilmu pertambahan-perkalian rejeki itu dimulai dari kecakapan ilmu bagi. Dalam keadaan apapun dan di mana pun slalu berbagi dengan sesama bahkan seluruh makhluq-Nya.

Garansi dari Kanjeng Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam: ‘Tidak akan berkurang (rejeki) harta dengan berbagi (shodaqoh). Melainkan, semakin bertambah, bertambah, dan bertambah.’

Banyak ayat al-Quran yang menerangkan kelipatan pertambahan, berlipat-lipat, untuk rejeki yang di-shodaqoh-kan. Syarat pertambahan rejeki dengan shodaqoh ada syaratnya: ketika bershodaqoh bersihkan hati dari harapan agar ditambah. Begitu terbesit harapan agar bertambah maka tambahan itu ALLOH tangguhkan. Selain untuk pertambahan keberlimpahan, shodaqoh adalah alat tolak bala. Shodaqohlah maka kita terhindar dari malapetaka dunia dan akhirat.

Rumus pertambahan-panggandaan rejeki yang ketiga ialah senantiasa jadi orang bertaqwa. Ketaqwaan itu sikap jiwa yang slalu merasa bahwa Alloh Maha Melihat, Maha Dekat, dan bahkan slalu menyertai setiap langkah kehidupan. Dengan perasaan itu pula maka terjaga diri dari perbuatan yang dilaranng dan tidak dicintai-Nya. Sebaliknya, jadi pribadi yang slalu taat dan slalu melakukan perbuatan yang dicintai-Nya.

Untuk menumbuhkan rasa ini jalannya tak lain dengan dawam Dzikir kalimah Taqwa dengan nyaring dan mendenyutkan Dzikir Taqwa-nya setiap saat. Kalau sudah kekal dalam Taqwa maka janji Alloh azza wajalla ia akan slalu dikarunia rejeki dengan jalan yang tidak disangka-sangka [wa yarzukhu min haitsu laa yahtasib]. Datangnya rejeki dengan cara-cara mengejutkan dan di luar dugaan. So jadilah orang Taqwa lalu rasakan sensasi surprise datangnya rejeki.

*) Adalah KH Budi Rahman Hakim. Seorang Ph.D di bidang Tashowuf dan Tarekat di Tilburg University School of Humanities, Tilburg, the Netherland. Pendiri dan Pimpinan Pesantren Peradaban Dunia JAGAT ‘ARSY, Banten, Indonesia

Comment here