Petunjuk Sufi

Hidup Seorang Sufi itu Sehari, Sehari

Oleh: Syekh Muhammad Abdul Gaos (*

Jika datang pagi maka janganlah menunggu tibanya sore. Pada hari ini kita semua hidup, bukan di hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan kejelekannya, dan bukan pula hari esok yang belum tentu datang. Hari ini dengan mataharinya yang bersinar, adalah harinya kita. Umur hanya sehari. Karena itu anggaplah rentang kehidupan kita adalah hari ini saja, seakan-akan kita dilahirkan pada hari ini dan akan mati hari ini juga.

Saat itulah kita hidup, jangan tersangkut dengan gumpalan masa lalu dengan segala keresahan dan kesusahannya, dan jangan pula terikat dengan ketidakpastian di masa yang penuh dengan hal-hal yang menakutkan serta gelombang yang sangat mengerikan. Hanya untuk hari ini sajalah seharusnya kita mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras. Pada hari ini kita harus mempersembahkan kualitas sholat yang khusyu’, bacaan al-Qur’an yang sarat tadabbur, dzikir yang sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang telah Alloh berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian pada jiwa dan raga, serta bersikap sosial terhadap sesama. Hanya untuk hari ini saja, saat mana manusia hidup.

Oleh karena itu, kita harus benar-benar membagi setiap jamnya. Anggaplah setiap menitnya sebagai hitungan tahun, dan setiap detiknya sebagai hitungan bulan, saat-saat di mana kita bisa menanam kebaikan dan mempersembahkan sesuatu yang indah. Bertaubatlah atas semua dosa, ingatlah selalu kepadaNya, bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan nanti, dan nikmatilah hari ini dengan segala kesenangan dan kebahagiaan. Terimalah rejeki yang didapat hari ini dengan penuh keridloan, Istri, suami, anak-anak, tugas-tugas, rumah, ilmu, dan posisi kedudukan

Jalanilah hidup kita hari ini tanpa kesedihan dan guncangan jiwa. tanpa rasa tidak menerima dan keirian, dan tanpa kedengkian. Sama hal yang harus kita lakukan adalah menuliskan pada dinding pikiran kita suatu kalimat “Harimu adalah hari ini”. Jika kita makan nasi hangat hari ini, maka apakah nasi yang kita makan kemarin atau nasi besok hari yang belum jadi akan bendampak negatif terhadap diri kita?

Jika kita bisa minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa kita harus bersedih atas air asin yang diminum kemarin? Atau, mengapa malah mengharapkan air yang hambar dan panas yang akan datang esok hari?

Jika kita jujur terhadap diri kita sendiri maka dengan kemauan keras, kita akan bisa menundukan jiwa dengan teori ini : “Saya tidak akan pernah hidup kecuali hari ini.” Oleh karena itu, manfaatkanlah hari ini, setiap detiknya untuk membangun kepribadian, untuk mengembangkan semua potensi yang ada, dan untuk membersihkan amalan.

Katakanlah. “Hari ini saya akan mengatakan yang baik-baik saja. Saya tidak akan pernah mengucapkan kata-kata kotor dan menjijikkan. tidak akan pernah mencela dan mengghibah. Hari ini saya akan menertibkan rumah dan kantor
agar tidak semrawut dan berantakan, agar rapi dan teratur. Karena saya hanya hidup untuk hari ini saja maka saya akan memperhatikan kebersihan dan penampilan diri. Juga gaya hidup, keseimbangan cara berjalan, bertutur dan tindak tanduk.”

“Karena saya hanya hidup untuk hari ini saja maka saya akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Allah, melakukan sholat sesempurna mungkin, melakukan sholat nafilah sebagai bekal untuk diri sendiri, mengkaji al-Quran, membaca buku-buku yang bermanfaat, mencatat hal-hal yang perlu.”

“Saya hidup untuk hari ini saja, karenanya saya akan menanam nilai-nilai keutamaan di dalam hati ini dan mencabut pohon kejahatan berikut ranting-rantingnya yang berduri: takabur, ujub, riya’, dan buruk sangka”.

“Saya hidup untuk hari ini saja, karenanya saya akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan kebaikan kepada mereka, Menjenguk yang sakit, menunjukan jalan yang benar bagi yang kebingungan memberi Makan orang kelaparan, menolong orang sedang dalam kesulitan, membantu yang dizhalimi, membantu yang lemah, mengasihi yang menderita, menghormati seorang yang alim. menyayangi anak kecil, dan menghomati yang lebih tua.”

“Hari kita adalah hari ini”, adalah ungkapan terindah dalam kamus kebahagian, kamus bagi yang manginginkan kehidupan yang indah.

*) Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Nuqthoh edisi 1 30 januari 2007

Comment here