Sufi Milenial

Netizen Beruntung, Netizen Rugi, dan Netizen Bangkrut

Pada akhirnya para Netizen akan mati. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Nah, kalau Netizen mati meninggalkan apa?

Netizen mati meninggalkan jejak-jejak digitalnya. Yaitu, unggahan-unggahannya di akun lini massa (social media) masing-masing. Akan terlihat mana Netizen beruntung dan mana Netizen yang buntung –merugi bahkan bangkrut.

Netizen beruntung jika jejak digitalnya berisi contents positif, baik, dan mendidik. Menebar pesan damai, cinta, persaudaraan, dan doa’.

Netizen buntung ialah yang akunnya disampahi dengan contents negatif, keburukan, dan hardikan. Netizen yang kerjanya mengujar kebencian, hasutan, hinaan, dan fitnah.

Celakalah para Nitezen kategori terakhir ini. Tiada kematiannya selain
meninggalkan keburukan dan kehinaan.
*****

Selain meninggalkan jejak digital, Netizen mati harus mempertanggungjawabkan amal perbuatan. Baik tuntutan pertanggungjawaban atas dampak dari jejak digitalnya itu maupun atas nerasa amal perbuatan dihadapan Tuhan-nya.

Kalau Netizen semasa hidupnya bersosial media banyak menginspirasi, memotivasi, dan menunjukkan jalan kebaikan –serta atas semua yang dilakukannya itu–banyak orang jadi baik-lebih baik hidupnya, maka ia akan: 1) dikenang harum –namanya akan slalu hidup di hati banyak orang meski sudah tiada. 2) dari setiap perbuatan baik, dari setiap perubahan lebih baik orang-orang kerana jejak digitalnya, maka ia akan mendapat pahala kebaikan meski ia sudah berpindah ke alam keabadian.

Usia transperan pahala kebaikan itu terus mengalir sepanjang orang-orang itu terus melakukan kebaikan dan menularkan kebaikan itu kepada yang lainnya. Semakin besar penularan kebaikan, semakin besar pula passive income pahala kebaikannya.

Dampak jejak digital akan jadi penolong/syafaat di alam sebelah, di hari perhitungan Neraca amal. Oleh karenanya, mulai sekarang jadilah Netizen yang berorientasi memperbanyak passive income pahala kebaikan dengan mengunggah pesan/perbuatan yang baik-baik/kebaikan.
*****

Sementara itu, Netizen dengan jejak digital negatif –senangnya mengunggah ujaran hate speech, menebar hasutan, nyinyir, cacian, dan fitnah– maka, ketika ia mati, nama Netizen seperti ini samasekali:

Pertama, takkan mendapatkan tempat sebagai sosok yang layak dikenang di hati, karenanya dengan mudah akan dilupakan orang. Bilapun dikenang, hanya sebagai monumen sejarah sebagai manusia laknat.

Kedua, di neraca Amal Perbuatannya di hadapan-Nya –realitas spiritual yang pasti di hadapinya– semakin berat dan semakin berat. Kenapa, karena setiap unggahan negatif-nya yang mendorong orang lain berbuat/berlaku negatif, maka, selain efek negatif yang ditimbulkannya semakin besar, timbangan Amal Perbuatan buruknya itu semakin besar dan terus melipat ganda sepanjang usia jejak-jejak unggahannya itu menginspirasi, mendorong orang-orang yang membacanya berbuat negatif.

Semakin berat neraca Amal Keburukannya maka semakin dalam ia dalam siksa, semakin panjang usia ia dalam penderitaan di Alam Keabadian. Oleh karenanya, mulai sekarang, berhentilah jadi haters, Netizen julid, Netizen yang memperturutkan iblis dalam setiap unggahannya.
*****

Netizen julid, pembenci, penggunjing, dan penebar hoaks adalah seburuk-buruk manusia. Karena Netizen dengan unggahannya yang buruk seperti itu merupakan cermin, gambar dirinya yang paling utuh. Gambar diri seorang yang tidak pernah mencapai apapun dalam hidupnya. Netizen pengecut yang slalu menyamarkan dirinya dalam fake identity.

Secara spiritual ketika akhirnya Netizen model begini mati, maka ia serugi-rugi manusia. Manusia bangkrut, manusia yang neraca Amal Kebaikannya bukan hanya nol melainkan minus berat. Dalam bahasa Agama disebut muflis.

Setiap unggahannya yang negatif kepada orang lain, seluruh Amal Kebaikan-nya diambil lalu berpindah kepada siapa saja yang ia negatifi. Habislah timbangan Amal Kebaikannya. Tak cukup di situ. Atas tindakan buruknya itu, ia pun mendapat kiriman Amal Keburukan yang diambil dari orang dinegatifinya itu.

Jadi kelak, di Hari Perhitungan yang pasti di hadapinya, Netizen begini tidak akan mendapatkan dirinya selain daftar panjang Amal Keburukan dan tiada tersisa baginya Amal Kebaikan. Nasib ia harus menghuni Neraka siksa ciptaanya sendiri, kekal ia dalam derita siksanya. Selama-lamanya. Nausdzu billahi mindzaalik.

Salam milenial, Abdul Rahman Hakim al-Khoolish

Comment here