Tips Sufi

Rumus Pertemanan Kaum Sufi di Media Sosial

Kepada para pegiat media sosial, saatnya lebih selektif memilih pertemanan. Sebabnya, dunia sosial media yang sejatinya menjadi ruang silaturahim di dunia maya telah menjadi lembah hitam pengotor jiwa. Alih-alih menjadi sumber penularan positive energy, jejaring lini masa sekarang telah menjadi gardu induk penyebaran negative energy.

Penyebab utamanya ialah sosial media kini dikuasai oleh para pelaku industri buzzers. Mereka menangguk rejeki haram dengan menjadi tentara cyber bayaran bagi para tokoh yang maju ke pentas kontestasi politik. Mereka menjadi dirty hand para kontestan ini untuk melancarkan negative campaign kepada lawan-lawan politik mereka.

Para pebisnis buzzers politik ini bersedia memproduksi dan mendesiminasi contents apa saja, termasuk hoaks. Semua ada tarifnya. Semakin keji hoaks dan dampaknya terhadap hancurnya citra lawan maka semakin mahal ongkos bayarannya. Bener-bener defisit moral para pelaku industri fitnah ini.

Hidup mereka subur dengan akun-akun palsu dengan fake identity yang dengan kepolosan dan prasangka baik para Netizen dijadikan teman. Secara tidak sadar, ketika kita berjejaring pertemanan dengan akun-akun buzzers ini sesungguhnya kita membiarkan mereka eksis. Oleh karena itu penting bagi kita, sebelum meng-add atau meng-accept pertemanan di lini masa, untuk terlebih dulu mengecek identitas dan rekam jejak postingan mereka.

Jika identitas dan rekam jejak postingan mereka nol dan hanya sharing postingan orang lain tanpa komentar bertanggungjawab, maka sebaiknya segera di-unfriend saja. Putuskan hubungan dengan mereka. Sebab salah-salah kita turut menebar hoaks yang terlarang secara moral.

Kini, saatnya membangun pertemanan yang ril saja di media sosial. Jadikan teman hanya yang benar-benar menunjukkan identitas yang sebenarnya dan tak pernah terlibat dalam jaringan buzzers. Kita berhak memilih teman untuk sukses, bersemangat, dan optimis menyikapi kehidupan.

Sekali lagi, segera un-friend teman media sosial yang nyata-nyata menjadi perusak –yang bisa jadi pembunuh sadis– jalinan pertemanan, persaudaraan, dan kekerabatan ke-Indonesia-an. Sebab semua telah menjadi polusi berbahaya bagi para pecinta-penyambut kesucian jiwa dan hidup damai penuh harmoni.

Salam hangat,
Budi Rahman Hakim,
Dosen Sufism di UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta

Comment here