Sufi MilenialUncategorized

Syukur kunci kebahagiaan

Kalau kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari, begitu banyaknya orang yang merindukan kebahagiaan dalam hidupnya baik dari segi jasmani maupun rohani, namun kebahagiaan yang didambakan bukanlah hal yang mudah untuk didapat. Kita sering menemui orang orang yang pusing dan nelangsa karena tidak punya uang, mi sal.
Namun bersamaan dengan itu kita sering melihat orang yang menderita, stres dan was-was justru menimpa orang-orang yang kelebihan uang. Ada pula orang yang sempit dan nelangsa karena dia adalah orang yang banyak utang.

Begitu pula yang berkaitan dengan rupa, harta, kedudukan, kekuasaan, popularitas gelar dan aksesoris duniawi lainnya ternyata sama sekali tidak akan bisa menjamin akan ketenteraman, kenikmatan dan kebahagiaan, kenapa bisa demikian?

Sebagai perumpamaan, bayangkan sebuah lemari kaca penuh dengan makanan lezat tapi terkunci rapat manakah yang lebih dahulu dipikirkan?

Bagi orang yang normal cara berpikirnya, dia akan mencari kuncinya lebih dulu. Karena mati-matian ingin menikmati isi lemari, tapi tidak mempunyai kuncinya sama dengan menyiksa diri, membuat penderitaan
tiada akhir, dia didera keinginan yang tidak akan tercapai.

Ketahuilah bahwa kenyataan hidup pun tidak jauh berbeda dengan perumpamaan di atas, sehebat apapun keinginan untuk menikmati hidup bila tidak mengetahui kuncinya maka kebahagiaan hanya akan ada dalam angan-angan saja.

Sayang, sebagian besar orang Iebih sibuk memikirkan isi lemari dari pada mencari kuncinya terlebih dahulu, itulah sebabnya hidup ini menjadi sulit untuk bahagia, selalu terjadi perpindahan dari was-was, takut, cemas, gelisah, bingung, tegang, pening dan sebagainya.

Kunci pembuka kebahagian ini adalah syukur. Artinya siapa pun yang tidak tahu cara mensyukuri nikmat dengan benar, maka tipislah harapan untuk bisa menikmati hidup ini, serta kebahagiaan yang didambakan dalam hidupnya pun tak akan pernah dirasakannya.

Memiliki kemampuan bersyukur berarti pula akan dapat mengikat nikmat yang ada, serta mengundang nikmat yang lebih besar yang belum ada.
*Nuqthoh edisi 1 30 januari 2007

Comment here